Tersesat di Negeri Jiran Sampai Pusing Kepala
8:23:00 AMSatu Dekade di Langit Jiran
![]() |
| lupa ini di mana |
Sejujurnya banyak sekali yang terlewat memory di kepala hanya tersimpan beberapa tahun kebelakang saja, di usia gue sekarang yang mulai menua sering marasa seperti pengamat yang berdiri di antara dua benua. Berangkat ke Malaysia waktu itu tahun 2007 masih remaja ingusan bayangkan, 10 tahun gue habiskan disana.
Mulai tahun ini gairah menulis mulai terasa lagi bosen banget scroll media sosial dulu menulis adalah kesenangan sekarang hampir saya lupakan, sekalian nih mau bedah sedikit tentang suka duka jadi perantau abadi di negeri Jiran.
Ini nih bagian paling lucu tapi miris, sebagai pekerja imigran selama sepuluh tahun bikin orang di kampung halaman nganggep gue ini bank berjalan. Pandangan mereka "wah, kerja di luar negeri, gaji ringgit pasti banyak duitnya". Realitanya awal - awal disana boro-boro mikir jadi kaya mau beli makan aja gemeter karena kultur shock dari bahasa lingkungan belum adaptasi sepenuhnya. Gue sering cuma manggut - manggut kayak burung lagi makan pas di ajak ngomong sama warlok. " Ya, boleh - boleh." Padahal dalam hatimah,"ini maksudnya apa ya?".
Gue akui, Malaysia itu sophisticated soal fasilitas publik. Sistem transportasinya bikin gue yang terbiasa naik angkot jadi norak seketika. Gue pernah berdiri di depan mesin tiket LRT selama 15 menit cuma buat mikir gimana cara nuker uang jadi koin (token). Gue tekan-tekan layarnya sampai dikira lagi mau nge-hack sistem, padahal cuma bingung mau pilih stasiun tujuan. Malunya sampai ke ubun-ubun!
Ini pengalaman yang paling membekas di otak gue. Suatu malam, gue lagi asyik nongkrong di area food truck yang lagi hits dan ramai banget. Pas temen gue mau balik duluan, dia teriak sambil melambai-lambaikan tangan dengan semangat:
"Dadah! Dadah semuanya!"
Seketika, suasana yang tadinya berisik langsung hening. Orang-orang di meja sebelah melotot, ada yang bisik-bisik, dan temen lokal gue langsung buang muka pura-pura nggak kenal sebelum akhirnya narik kerah baju gue. Dia bisik dengan nada panik: "Woi, jangan sebut 'dadah' kuat-kuat! Kat sini, dadah itu Narkoba!"
Gue langsung pucat. Di Indonesia, "dadah" itu perpisahan yang manis, di Malaysia itu bisa bikin lo diangkut polisi hahah.
Setelah sepuluh tahun, otak gue kayak terbelah. Ada beberapa kata yang kalau gue pakai di Indo malah bikin orang bingung, tapi kalau di sana ya itu normal. Menjadi perantau selama satu dekade itu bukan cuma soal cari uang, tapi soal belajar "Survive" dari gegar budaya yang nggak ada habisnya. Sekarang di usia udah kepala 3, gue cuma bisa ketawa kalau ingat betapa polosnya gue dulu.

0 komentar